“Kita harus menjalankan kasih kepada Allah, kasih kepada sesama dan kasih kepada diri sendiri secara bersamaan. Karena ketiganya tidak dapat terpisahkan. Seseorang yang mengasihi Allah pastilah ia akan mengasihi sesama dan dirinya. Begitu juga seseorang yang tidak mengasihi Allah, pastilah ia tidak akan mampu mengasihi sesama dan dirinya dengan benar.”
Saat ini banyak manusia telah kehilangan kasih dan mulai hidup seperti binatang. Inilah kebusukan pertama yang harus kita tanggalkan. Mengapa saya mengungkapkan hal ini? Karena kehidupan manusia yang seharusnya memanusiakan orang lain sudah mulai menjadikan orang lain sebagai binatang buas yang mengancam nyawanya. Bahkan tidak segan-segan memperlakukan orang lain seperti binatang. Inilah mengapa Thomas Hobbes mengungkapkan statement “manusia adalah serigala bagi manusia lain. ” Sepertinya hal ini terjadi karena manusia telah kehilangan kasih. Entah kepada Tuhan, sesama manusia ataupun kepada dirinya sendiri. Mungkin wajar saja jika orang yang belum percaya kepada Kristus tidak memiliki kasih, tetapi sangatlah tidak wajar jika orang Kristen tidak memiliki kasih. Namun faktanya demikian.
Beberapa bulan yang lalu, di salah satu kota di Indonesia terdengar berita yang sangat menggemparkan mengenai seorang wanita cantik yang mati mengenaskan dengan badan penuh luka tusuk. Selidik punya selidik, ternyata ia dibunuh oleh mantan pacarnya sendiri, seorang koki di salah satu rumah makan. Menurut cerita yang ada, mantan pacarnya ini membunuhnya lantaran diputuskan begitu saja setelah kurang lebih 1 tahun menjalin hubungan cinta. Entah benar demikian atau tidak, yang jelas masalah tersebut adalah sepele. Mungkin karena lelaki itu sudah kehilangan kemanusiawiannya atau apapun itu, tiba-tiba sang mantan pacar tersebut menghajar perempuan cantik itu hingga ia meninggal dunia. Naas perempuan tersebut diperlakukan tidak manusiawi seakan nyawanya tidak ada artinya.. Inilah yang saya maksudkan dengan orang percaya kehilangan kasih kepada sesamanya, sehingga menjadi buas seperti binatang hutan yang liar. Saya yakin hal ini di picu oleh hilangnya kasih kepada Allah, kemudian berimbas kepada kehilangan kasih kepada sesama.
Sekali lagi hamba Tuhan sebagai contoh. Mengapa saya memakai contoh ini, karena saya adalah hamba Tuhan yang sangat takut jika saja telah kehilangan kasih. Disisi lain saya takut, jika saja menyudutkan jemaat terus menerus. Artinya supaya terjadi keseimbangan dalam penulisan ini. Beberapa tempat sudah saya kunjungi dan dalam pelayanan seringkali mendapati masalah yang sama. Di dalam satu gereja misalnya, ada persaingan antara hamba Tuhan yang satu dengan yang lainnya. Ketika potensi yang satu mulai menanjak. Seringkali hamba Tuhan yang lain berusaha untuk menjatuhkannya, entah dengan cara mencari-cari kesalahan untuk kemudian menjelek-jelekannya di hadapan jemaat ataupun dengan cara lainnya. Supaya ia mendapatkan kehormatan atau jabatan.
Tidak hanya itu, Saya juga mendapati seorang hamba Tuhan yang hanya memikirkan uang persembahan ataupun perpuluhan tanpa mau memperhatikan jemaatnya. Sesungguhnya sikap tersebut telah menjadikan orientasi pelayanan kepada uang. Memang uang sangat penting bagi pelayanan, karena tanpa uang gereja ataupun pekabaran injil tidak akan berjalan lancar. Namun bukan itu orientasinya, melainkan Tuhan saja. Jika orientasi pelayanan sudah kepada kehormatan, jabatan, atau uang, maka ia telah kehilangan kasih kepada Allah. Jelaslah bahwa tanpa kasih maka tatanan kehidupan akan kacau balau. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk memahami kasih dan melakukannya dalam kehidupan sehari-sehari demi buah yang manis yang dapat dinikmati banyak orang. Trilogy kasih yang saya ingin paparkan berikut, sekiranya mampu menggugah hati kita untuk melakukan kasih lebih sungguh-sungguh. Sebab kasih merupakan kualitas pertama yang harus kita miliki.
(LOUIS PRASETYO, Pribadi Yang Berkualitas)

No comments:
Post a Comment